Banyak UMKM masuk ke digital marketing dengan urutan yang terbalik.
Akun Instagram dibuat lebih dulu. TikTok menyusul. Setelah beberapa minggu, mulai mencoba iklan. Konten terus diproduksi, followers bertambah, views sesekali naik, tetapi penjualan tidak bergerak banyak.
Masalahnya biasanya bukan kurang aktif.
Yang belum jelas justru hubungan antara aktivitas marketing dan transaksi.
Pemilik usaha perlu tahu dari mana calon pelanggan datang, konten apa yang membuat mereka tertarik, apa yang meyakinkan mereka untuk membeli, dan kanal mana yang akhirnya menghasilkan uang.
Di sinilah digital marketing untuk UMKM perlu diperlakukan sebagai bagian dari sistem penjualan, bukan sekadar pekerjaan mengisi media sosial.
Data Digital 2026 Indonesia mencatat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia, dengan penetrasi internet sekitar 80,5 persen. Pada periode yang sama terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial.
Angkanya besar, tetapi tidak semuanya relevan bagi sebuah UMKM.
Toko kue di Depok tidak membutuhkan perhatian dari 180 juta akun. Yang dibutuhkan adalah orang-orang di wilayah layanan yang sedang mencari kue, tertarik dengan produknya, lalu cukup percaya untuk memesan.
Fokusnya selalu kembali ke pelanggan.
Apa Itu Digital Marketing untuk UMKM?
Digital marketing untuk UMKM adalah aktivitas pemasaran melalui kanal digital yang dirancang untuk mendatangkan calon pelanggan, membantu mereka memahami produk, mendorong transaksi, dan menjaga hubungan setelah pembelian.
Kanal yang digunakan dapat berupa:
- website;
- Google Search;
- Google Business Profile;
- Instagram;
- TikTok;
- Facebook;
- marketplace;
- WhatsApp;
- email;
- dan iklan digital.
Tidak semuanya harus digunakan.
Pemilihan kanal sebaiknya mengikuti kebiasaan pelanggan dan proses pembelian produk.
Sebuah bengkel mobil lokal, misalnya, lebih membutuhkan visibilitas di Google dibanding memaksakan diri membuat tiga video TikTok setiap hari.
Sebaliknya, brand fashion yang menjual produk visual mungkin lebih mudah memperoleh perhatian melalui Instagram atau TikTok.
Digital Marketing Tidak Sama dengan Rajin Posting
Jumlah konten tidak otomatis menunjukkan kualitas pemasaran.
Sebuah akun dapat mengunggah konten setiap hari dan tetap kesulitan menghasilkan penjualan.
Masalah seperti ini sering terjadi ketika seluruh perhatian tertuju pada reach, likes, dan followers, sementara proses setelah orang melihat konten tidak diperhatikan.
Calon pelanggan biasanya melewati beberapa tahap:
menemukan bisnis → memeriksa produk → mencari bukti → membandingkan → bertanya → membeli
Setiap kanal bisa memiliki fungsi berbeda.
TikTok mungkin memperkenalkan produk.
Instagram membantu calon pelanggan melihat portofolio.
Google memberikan informasi tambahan.
WhatsApp menangani pertanyaan hingga transaksi.
Karena itu, performa digital marketing lebih masuk akal dinilai dari keseluruhan perjalanan pelanggan.
Mengapa Digital Marketing Penting untuk UMKM?
Salah satu keuntungan utama pemasaran digital adalah kemampuan melihat apa yang terjadi setelah promosi dijalankan.
Pemilik usaha dapat memeriksa:
- berapa orang melihat iklan;
- halaman apa yang banyak dikunjungi;
- konten mana yang mendatangkan pesan;
- berapa calon pelanggan masuk melalui WhatsApp;
- berapa yang akhirnya membeli;
- dan berapa biaya untuk mendapatkan satu transaksi.
Data ini membantu UMKM memutuskan aktivitas mana yang pantas dilanjutkan.
Misalnya, Instagram menghasilkan 100 pertanyaan tetapi hanya lima transaksi. Sementara Google menghasilkan 30 pertanyaan dengan 15 transaksi.
Tanpa melihat conversion rate, Instagram bisa tampak lebih berhasil karena jumlah interaksinya lebih besar.
Padahal dari sisi bisnis, Google membawa calon pelanggan dengan niat membeli yang lebih kuat.
UMKM Tidak Harus Memulai dengan Budget Besar
Sebuah usaha lokal dapat memulai dengan struktur sederhana:
Google Business Profile + Instagram + WhatsApp Business
Google membantu calon pelanggan menemukan usaha.
Instagram memberi gambaran mengenai produk, kualitas, dan aktivitas bisnis.
WhatsApp menjadi tempat calon pelanggan menanyakan detail dan menyelesaikan pesanan.
Tiga kanal ini sudah cukup untuk menguji apakah pesan pemasaran dan produk memiliki respons yang baik.
Iklan dapat ditambahkan setelah bisnis mengetahui produk apa yang paling mudah dijual dan siapa pembelinya.
Cara Menyusun Strategi Digital Marketing untuk UMKM
Strategi digital marketing untuk restoran tidak bisa disalin mentah-mentah ke bengkel, distributor bahan bangunan, bisnis skincare, atau produsen furniture.
Perbedaan harga, frekuensi pembelian, wilayah layanan, dan karakter pelanggan akan mengubah strateginya.
Meski begitu, ada beberapa keputusan dasar yang hampir selalu perlu dibuat.
1. Tentukan Siapa yang Paling Mungkin Membeli
Target pasar yang terlalu luas membuat konten sulit diarahkan.
“Pria dan wanita usia 18–45 tahun” belum banyak membantu tim marketing.
Informasi yang lebih berguna adalah situasi yang membuat seseorang membutuhkan produk.
Misalnya sebuah UMKM frozen food dapat menargetkan:
orang tua muda yang membutuhkan stok makanan praktis di rumah, tetapi tetap memperhatikan kualitas bahan dan kemudahan penyajian.
Dari sini arah komunikasinya mulai terlihat.
Konten dapat membahas:
- waktu memasak;
- cara penyimpanan;
- ukuran porsi;
- komposisi;
- menu untuk anak;
- dan stok makanan untuk hari kerja.
Target pasar akhirnya memengaruhi isi konten, bukan hanya angka usia di dokumen strategi.
2. Cari Tahu Bagaimana Pelanggan Membeli
Ambil contoh jasa catering kantor.
Seorang calon pelanggan mungkin pertama kali mencari:
“catering kantor Jakarta Selatan”
di Google.
Setelah menemukan beberapa pilihan, ia membuka Instagram masing-masing vendor.
Ia melihat menu, dokumentasi pesanan, kapasitas produksi, dan testimoni.
Setelah kandidatnya tinggal dua atau tiga, barulah ia menghubungi WhatsApp untuk meminta harga.
Dalam kasus tersebut:
- Google berfungsi sebagai pintu masuk;
- Instagram membantu proses validasi;
- WhatsApp menangani negosiasi dan transaksi.
Informasi seperti ini penting karena mencegah bisnis salah membaca performa kanal.
Transaksi memang selesai di WhatsApp, tetapi bukan berarti WhatsApp sendirian menghasilkan pelanggan tersebut.
3. Fokus pada Sedikit Kanal Terlebih Dahulu
Tim UMKM biasanya terbatas.
Memaksakan diri aktif di lima platform sering menghasilkan konten yang tipis dan sulit dievaluasi.
Pilih kanal berdasarkan cara pelanggan menemukan dan membeli produk.
Beberapa kombinasi yang masuk akal:
Bisnis lokal:
Google Business Profile + Instagram + WhatsApp
Produk visual:
Instagram + TikTok + marketplace
Bisnis B2B:
Website + SEO + WhatsApp atau email
Produk dengan pencarian Google tinggi:
SEO + Google Search + Google Ads
Jika satu kombinasi sudah menghasilkan pola transaksi yang stabil, ekspansi ke kanal lain menjadi lebih aman.
SEO untuk UMKM: Menjangkau Orang yang Sudah Sedang Mencari
SEO memiliki karakter yang berbeda dari social media.
Di media sosial, sebuah bisnis mencoba mendapatkan perhatian dari orang yang sedang melihat berbagai macam konten.
Di Google, calon pelanggan sering kali sudah membawa kebutuhan.
Seseorang yang mengetik:
“catering nasi box Bandung untuk kantor 100 orang”
memberikan sinyal yang jauh lebih jelas dibanding seseorang yang kebetulan melihat video catering di Instagram.
Karena itu, SEO cukup menarik untuk UMKM yang produknya memang dicari melalui mesin pencari.
Jangan Hanya Mengejar Keyword dengan Volume Besar
Keyword besar sering terlihat menggoda.
Contohnya:
sepatu
Namun keyword tersebut tidak menjelaskan apa yang benar-benar dibutuhkan pencari.
Bandingkan dengan:
sepatu kulit pria handmade Bandung
Intent-nya jauh lebih jelas.
Hal yang sama berlaku untuk:
catering
dibandingkan:
catering sehat bulanan Jakarta Selatan
Keyword panjang biasanya memiliki volume lebih kecil, tetapi sering membawa calon pelanggan yang lebih dekat ke keputusan pembelian.
Untuk UMKM, kualitas intent semacam ini bisa lebih bernilai daripada jumlah pencarian semata.
Gunakan Pertanyaan Pelanggan sebagai Bahan Artikel
Sumber ide SEO terbaik sering sudah tersedia di inbox WhatsApp.
Perhatikan pertanyaan yang berulang.
Misalnya bisnis furniture sering mendapat pertanyaan:
- kayu jati atau mahoni lebih bagus untuk meja makan?
- berapa lama pembuatan meja custom?
- apakah ukuran bisa disesuaikan?
- bagaimana cara merawat meja kayu?
- apakah pengiriman bisa ke luar kota?
Setiap pertanyaan tersebut dapat dikembangkan menjadi halaman atau artikel.
Pendekatan ini membuat konten lebih dekat dengan kebutuhan calon pembeli.
Bisnis tidak perlu menebak-nebak topik hanya berdasarkan tren keyword.
Social Media Marketing untuk UMKM
Media sosial paling berguna ketika setiap jenis konten memiliki fungsi yang jelas.
Tidak semua posting harus menghasilkan penjualan langsung.
Sebagian konten bekerja untuk memperkenalkan bisnis.
Sebagian lagi menjawab keraguan.
Sebagian lainnya memang dibuat untuk menawarkan produk.
Konten untuk Mendapatkan Perhatian
Konten jenis ini bertugas membuat orang berhenti scroll.
Materinya dapat berupa:
- kesalahan yang sering dilakukan pelanggan;
- perbandingan produk;
- tips singkat;
- masalah sehari-hari;
- proses yang jarang diketahui;
- atau sudut pandang yang relevan dengan industri.
Untuk bisnis laundry sepatu, misalnya:
“Kenapa sepatu putih justru menguning setelah dicuci sendiri?”
lebih menarik dibanding posting:
“Kami menerima jasa laundry sepatu.”
Konten untuk Membuktikan Kualitas
Setelah orang tertarik, mereka biasanya mencari bukti.
Di tahap ini, bisnis dapat memperlihatkan:
- proses kerja;
- bahan yang digunakan;
- standar pengecekan;
- before-after;
- cara packing;
- dokumentasi pesanan;
- testimoni yang spesifik.
Testimoni juga sebaiknya memiliki konteks.
Kalimat:
“Pelayanannya bagus.”
tidak banyak menjelaskan kualitas bisnis.
Bandingkan dengan:
“Pesanan 80 box untuk meeting tiba pukul 10.30, setengah jam sebelum acara dimulai.”
Testimoni kedua memberi bukti tentang ketepatan waktu dan kapasitas layanan.
Konten yang Mengarahkan ke Pembelian
Ketika audiens sudah tertarik, informasi transaksi harus mudah ditemukan.
Cantumkan dengan jelas:
- produk;
- kisaran harga;
- wilayah layanan;
- cara pemesanan;
- waktu pengerjaan;
- minimum order jika ada.
CTA juga tidak perlu dibuat seperti iklan televisi.
Kalimat:
“Untuk cek jadwal produksi minggu ini, hubungi admin melalui WhatsApp.”
sudah cukup jelas.
WhatsApp Marketing untuk UMKM
Bagi banyak UMKM, penjualan justru terjadi di WhatsApp.
Karena itu, kualitas admin sama pentingnya dengan kualitas konten.
Iklan yang bagus bisa kehilangan hasil jika calon pelanggan harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan jawaban.
Jawab Pertanyaan Utama Sebelum Menjual Lebih Banyak
Ketika calon pelanggan bertanya:
“Harganya berapa?”
jawab harga terlebih dahulu.
Jangan langsung mengirim katalog panjang, profil perusahaan, lima paket promo, dan informasi pengiriman dalam satu pesan.
Contoh respons yang lebih efisien:
“Harga paket mulai Rp185.000. Untuk kebutuhan berapa orang? Saya bantu pilihkan paket yang paling sesuai.”
Calon pelanggan mendapat jawaban dan percakapan tetap bergerak.
Kelompokkan Calon Pelanggan
WhatsApp Business dapat digunakan untuk memisahkan status percakapan.
Misalnya:
- calon pelanggan baru;
- sudah menerima penawaran;
- menunggu pembayaran;
- pesanan diproses;
- pelanggan lama;
- perlu follow-up.
Pengelompokan sederhana seperti ini membantu admin mengetahui siapa yang perlu dihubungi kembali.
Banyak transaksi hilang bukan karena calon pelanggan menolak, tetapi karena tidak pernah ditindaklanjuti.
Kapan UMKM Perlu Mulai Beriklan?
Iklan bekerja lebih baik ketika fondasi penjualannya sudah cukup jelas.
Sebelum menambah budget, periksa beberapa hal:
- Produk mana yang paling sering dibeli?
- Siapa pelanggan yang paling responsif?
- Pesan seperti apa yang paling sering menghasilkan pertanyaan?
- Berapa banyak pertanyaan yang berubah menjadi transaksi?
- Apakah admin mampu menangani tambahan leads?
Jika belum ada jawabannya, budget iklan sebaiknya tidak langsung diperbesar.
Masalah pada produk atau proses penjualan tidak akan selesai hanya karena lebih banyak orang melihat iklan.
Jangan Menggunakan Likes sebagai Ukuran Penjualan
Likes masih berguna untuk membaca respons konten.
Namun untuk kampanye yang ditujukan menghasilkan penjualan, metriknya perlu bergerak lebih dekat ke uang.
Perhatikan:
- cost per lead;
- conversion rate;
- cost per acquisition;
- average order value;
- revenue;
- return on ad spend.
Sebuah iklan dengan 300 likes bisa kalah bernilai dibanding iklan dengan 30 likes tetapi menghasilkan 12 transaksi.
Cara Mengukur Digital Marketing untuk UMKM
UMKM tidak membutuhkan dashboard dengan puluhan grafik untuk mulai membaca performa marketing.
Laporan sederhana sudah cukup.
| Kanal | Biaya | Leads | Transaksi | Revenue | Biaya per Transaksi |
|---|---|---|---|---|---|
| Rp1.500.000 | 95 | 21 | Rp8.400.000 | Rp71.429 | |
| Google Ads | Rp2.000.000 | 70 | 28 | Rp11.200.000 | Rp71.429 |
| SEO | Rp1.000.000 | 40 | 18 | Rp7.200.000 | Rp55.556 |
Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah leads saja tidak cukup.
Instagram menghasilkan leads paling banyak.
Google Ads menghasilkan transaksi paling tinggi.
SEO menghasilkan biaya per transaksi paling rendah.
Tiga kanal tersebut memiliki kontribusi berbeda.
Keputusan budget berikutnya bisa dibuat berdasarkan data semacam ini.
Perhatikan Conversion Rate
Misalnya sebuah landing page dikunjungi 1.000 orang dan menghasilkan 30 transaksi.
Conversion rate-nya adalah 3 persen.
Bulan berikutnya traffic naik menjadi 2.000 orang, tetapi transaksi hanya bertambah menjadi 35.
Traffic memang meningkat, tetapi kualitas atau proses konversinya memburuk.
Angka seperti ini membantu tim melihat masalah yang tidak terlihat dari jumlah kunjungan saja.
Hitung Biaya Mendapatkan Pelanggan
Jika UMKM mengeluarkan Rp5 juta untuk aktivitas marketing dan mendapatkan 100 pelanggan baru, biaya akuisisi rata-ratanya adalah Rp50.000 per pelanggan.
Angka itu belum bisa disebut murah atau mahal sebelum dibandingkan dengan margin.
Jika keuntungan dari transaksi pertama hanya Rp20.000 dan pelanggan jarang membeli kembali, biaya akuisisinya bermasalah.
Jika keuntungan per pelanggan selama enam bulan mencapai Rp500.000, ceritanya berbeda.
Marketing perlu dibaca bersama angka bisnis.
Kesalahan Digital Marketing UMKM yang Sering Terjadi
Mengejar Followers Tanpa Melihat Penjualan
Jumlah followers dapat membantu membangun social proof, tetapi nilainya terbatas jika audiensnya tidak relevan.
Akun dengan 50.000 followers belum tentu lebih sehat dibanding akun dengan 5.000 followers yang rutin menghasilkan pesanan.
Lihat kualitas audiens, bukan hanya jumlahnya.
Membuat Konten Tanpa Fungsi yang Jelas
Sebelum sebuah konten dipublikasikan, tim sebaiknya tahu apa pekerjaannya.
Apakah konten tersebut dibuat untuk:
- mendapatkan reach;
- menjelaskan produk;
- menjawab keberatan;
- memperlihatkan bukti;
- menghasilkan pesan;
- atau menawarkan produk?
Tujuan ini membantu menentukan format dan cara mengevaluasinya.
Mengikuti Tren yang Tidak Relevan
Tren bisa memberikan distribusi tambahan.
Namun views tidak banyak membantu jika audiens yang datang tidak memiliki hubungan dengan produk.
Sebelum mengikuti tren, lihat apakah formatnya bisa membawa topik kembali ke produk atau masalah pelanggan.
Jika tidak, lewati saja.
Mengabaikan Pelanggan Lama
Banyak UMKM terlalu fokus mencari pembeli baru dan hampir tidak memiliki strategi setelah transaksi selesai.
Padahal pelanggan lama sudah mengenal kualitas produk dan cara kerja bisnis.
Data pelanggan dapat digunakan—dengan tetap memperhatikan izin dan privasi—untuk:
- reminder pembelian ulang;
- informasi produk baru;
- program loyalitas;
- promo pelanggan lama;
- permintaan review;
- dan penawaran musiman.
Untuk bisnis dengan repeat order tinggi, bagian ini bisa memberi dampak besar pada revenue.
Contoh Strategi Digital Marketing UMKM dengan Budget Rp3 Juta
Misalkan sebuah bisnis dessert rumahan memiliki budget marketing Rp3 juta per bulan.
Daripada membagi uang tersebut ke banyak platform, fokuskan pada produk dan jalur pembelian yang paling mudah dikontrol.
Tahap 1: Rapikan Titik Kontak Utama
Pastikan tersedia:
- Google Business Profile;
- Instagram dengan bio yang jelas;
- katalog WhatsApp;
- foto produk yang layak;
- harga yang mudah ditemukan;
- testimoni;
- informasi pengiriman;
- cara memesan.
Tujuannya sederhana: ketika seseorang tertarik, ia tidak perlu mencari informasi dasar terlalu lama.
Tahap 2: Ambil Ide Konten dari Percakapan Pelanggan
Kumpulkan pertanyaan yang sering muncul.
Misalnya:
“Bisa dikirim hari ini?”
“Dessert tahan berapa lama?”
“Ada paket ulang tahun?”
“Bisa request tulisan?”
“Minimum order berapa?”
Pertanyaan seperti ini memiliki nilai karena berasal dari orang yang benar-benar mempertimbangkan pembelian.
Jawaban dapat diubah menjadi Reels, carousel, artikel pendek, FAQ, atau highlight Instagram.
Tahap 3: Iklankan Produk yang Sudah Terbukti
Pilih satu atau dua produk dengan karakter berikut:
- penjualannya konsisten;
- margin cukup sehat;
- mudah dijelaskan;
- visualnya menarik;
- mendapatkan feedback baik.
Produk tersebut lebih layak dijadikan materi iklan dibanding mempromosikan seluruh katalog sekaligus.
Tahap 4: Catat Hasilnya
Setiap bulan, catat minimal:
- budget;
- jumlah leads;
- jumlah transaksi;
- produk terlaris;
- revenue dari campaign;
- biaya per transaksi.
Setelah dua atau tiga periode, pola mulai terlihat.
Dari situ UMKM dapat menentukan apakah budget perlu ditambah, dipindahkan, atau justru dikurangi.
Berapa Budget Digital Marketing untuk UMKM?
Tidak ada persentase yang otomatis benar untuk semua bisnis.
Budget sangat dipengaruhi oleh margin, harga produk, target pertumbuhan, repeat order, dan biaya operasional.
Contohnya:
Sebuah produk dijual Rp300.000 dengan margin kotor Rp120.000.
Jika biaya mendapatkan satu pelanggan mencapai Rp150.000 sementara pelanggan hanya membeli sekali, campaign tersebut sulit dipertahankan.
Namun jika pelanggan rata-rata membeli empat kali dalam setahun, perhitungannya berubah.
Karena itu, budget marketing sebaiknya ditentukan bersama tiga angka:
margin produk, biaya akuisisi pelanggan, dan nilai pelanggan selama hubungan dengan bisnis.
Ketiga angka ini jauh lebih berguna daripada menentukan budget berdasarkan nominal boost yang terasa terjangkau.
Digital Marketing UMKM Perlu Membantu Bisnis Membuat Keputusan
Aktivitas digital marketing yang baik membuat pemilik usaha semakin memahami bisnisnya sendiri.
Setelah beberapa bulan, seharusnya mulai terlihat:
- pelanggan seperti apa yang paling sering membeli;
- channel mana yang menghasilkan transaksi;
- produk mana yang paling mudah dipromosikan;
- keberatan apa yang sering muncul sebelum pembelian;
- berapa biaya mendapatkan pelanggan;
- dan apa yang membuat pelanggan kembali.
Jika data tersebut belum terlihat, masalahnya tidak selalu terletak pada jumlah konten.
Bisa jadi tracking belum rapi, target pelanggan terlalu luas, atau terlalu banyak kanal dijalankan sekaligus.
Untuk UMKM dengan sumber daya terbatas, fokus biasanya memberikan hasil yang lebih baik daripada mengejar kehadiran di setiap platform.
Pilih kanal yang dekat dengan proses pembelian.
Pastikan calon pelanggan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.
Catat hasilnya.
Setelah itu, budget mengikuti kanal yang memang menunjukkan kontribusi terhadap penjualan.
FAQ Digital Marketing untuk UMKM
Apa itu digital marketing untuk UMKM?
Digital marketing untuk UMKM adalah pemasaran produk atau jasa melalui kanal digital seperti Google, website, media sosial, marketplace, WhatsApp, email, dan iklan online. Tujuannya dapat berupa mendapatkan calon pelanggan, menghasilkan transaksi, atau meningkatkan pembelian ulang.
Bagaimana cara memulai digital marketing untuk UMKM?
Mulailah dengan memetakan pelanggan, cara mereka menemukan produk, dan kanal yang digunakan sebelum membeli. Setelah itu pilih satu atau dua kanal utama, siapkan konten yang menjawab kebutuhan pelanggan, lalu catat leads serta transaksi yang dihasilkan.
Platform digital marketing apa yang cocok untuk UMKM?
Tergantung jenis bisnis. Usaha lokal dapat memprioritaskan Google Business Profile, Instagram, dan WhatsApp. Produk visual cocok menggunakan Instagram atau TikTok. Bisnis yang banyak dicari melalui Google dapat memprioritaskan website, SEO, dan Google Ads.
Apakah UMKM wajib memiliki website?
Tidak selalu. Website lebih dibutuhkan ketika bisnis ingin mendapatkan traffic dari Google, memiliki banyak informasi produk, membutuhkan kredibilitas tambahan, atau ingin memiliki aset digital yang tidak bergantung sepenuhnya pada platform pihak ketiga.
Apakah digital marketing harus menggunakan iklan?
Tidak. UMKM dapat mendapatkan pelanggan melalui SEO, Google Business Profile, konten organik, referral, marketplace, atau media sosial. Iklan digunakan ketika bisnis ingin memperbesar distribusi dan sudah memiliki produk serta proses penjualan yang cukup teruji.
Berapa biaya digital marketing untuk UMKM?
Biayanya bergantung pada industri, harga produk, margin, wilayah pemasaran, target pertumbuhan, dan kanal yang digunakan. Angka yang lebih penting untuk diketahui adalah berapa biaya mendapatkan satu pelanggan dan apakah biaya tersebut masih sesuai dengan margin bisnis.
Apa indikator digital marketing UMKM berhasil?
Indikator yang paling berguna adalah jumlah qualified leads, conversion rate, transaksi, customer acquisition cost, revenue, repeat order, average order value, dan return dari biaya marketing.
